Jejak Langkah

Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2020

ARISTA DEVI: PEREMPUAN KREATIF BERKUNJUNG KE NEGARA-NEGARA SECARA GRATIS LEWAT HOBI

Jangan sia-siakan hobi yang kamu miliki sebab tak menutup kemungkinan hobimu yang akan mengantarmu pada negeri-negeri tak terduga umtuk dikunjungi. Moh. Ghufron Cholid

Arista Devi​​ (Yuli Riswati) merupakan seorang perempuan yang ketiban berkah, mengembara ke negeri-negeri baru dalam peta hidupnya untuk dikunjungi lewat hobi jeprat-jepret yang ditekuni.

Arista Devi, seorang perempuan yang memiliki hobi memotret lalu mengunggah hasil potretannya di media sosial, lewat hobi tersebut Arista bisa tahu bahwa memotret menggunakan handphone dengan kamera profesional sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kekurangan kamera profesional, menurut Arista harus mempertaruhkan salah satu objek dari dua objek yang dibidiknya. Jika yang lebih mengemuka adalah baground belakang maka bisa dipastikan hasil foto modelnya blur dan alias tidak terang pun sebaliknya jika foto modelnya yang tampak memikat maka bagroundnya yang akan blur. Kamera handphone pertaruhannya adalah kecematan tangan, jika bisa menaklukkan sudah bisa dipastikan hasilnya bagus baik yang menjadi model maupun baground belakang model tersebut.

Lewat kebiasaan jeprat-jepret tersebut, Arista seakan ketibanan berkah. Berkah dari istiqamah hobi yang dilakoninya. Berkunjung ke negara-negara dengan gratis. Mengikuti event-event internasional, tidak hanya menjadi penonton melainkan pembicara ataupun pelaku.

Torjunan, 10 Maret 2020

Rabu, 26 Februari 2020

IMAM GALIH NAMA LAIN SENYUMAN

Oleh Moh. Ghufron Cholid

Imam Galih nama lain senyuman, merupakan pembuka tulisan yang saya sematkan pada salah seorang tokoh teater hilal yang sangat erat dengan julukan mencari wajah. Entah siapa yang pertama kali yang mencetuskan namun tiap kali membicarakan mencari wajah maka yang paling mengemuka adalah nama Imam Galih.
Sosok yang satu ini memang pandai memuat orang tersenyum dan bisa menjadi terapi untuk menghilangkan kerutan di wajah.
Membicarakan sosok Imam Galih apalagi berjumpa dengan Galih maka anda sudah bisa dikatakan siap tersenyum. Orang yang sangat supel. Cepat akrab dengan orang asing dan mampu membuat duka lara terasing.
Imam Galih merupakan orang Sukabumi, baginya membahagiakan orang atau membuat orang tersenyum sudah selaksa udara bagi manusia untuk bernafas.
Yang paling tak bisa saya lupakan tentang sosok satu ini adalah kedatangannya ke Junglorong dan tampil di acara haftam Madrasah Nahdlotut Tholibin sekaligus ulang tahun pesantren belasan tahun silam. Saya yang membaca puisi dan Imam Galih yang memainkan seruling.
Imam Galih nama lain senyuman, kehadirannya adalah kebahagiaan. Di tengah rekan-rekan ialah penghilang kedukaan dan kerutan di wajah. Semua yang kenal dengan sosok ini akan sepakat dengan apa yang saya ilustrasikan seputar sosok Imam Galih meski kesepakatan tersebut bernilai di bawah 100% sebab yang 100% hanyalah milik Allah, Tuhan Maha Sempurna.

Junglorong, 26 Februari 2020

Senin, 24 Februari 2020

SEPASANG SENIMAN YANG DICEMBURUI WAKTU



Oleh Moh. Ghufron Cholid

Apa jadinya jika seorang Pendongeng bertemu seorang Nolevis pasti malam pertamanya sangat seru. Saya tak dapat membayangkan sebab saya tak pernah mengalaminya tapi dua tokoh ink bukan tokoh fiktif, ianya nyata bahkan sangat nyata.

Ustad Ahmad Sanusi​​ dan Endang Kartini​​ adalah tokoh yang benar adanya. Keduanya adalah alumni pondok pesantren Al-Amien Prenduan. Yang satu alumni TMI dan satunya alumni TMaL. Keduanya bersepakat membina rumah tangga dan hidup bahagia.

Yang laki-laki adalah wali kelas saya saat 3 Intensif B sebuah jenjang pendidikan yang ditempuh oleh santri yang masuk Al-Amien Prenduan dengan menggunakan ijazah SMP/sederajat. 3 Intensif merupakan perpaduan dari pertengahan tahun pertama untuk 3 MTs sedangkan pertengahan tahun berikutnya untuk kelas 1 MA.

Yang perempuan merupakan senior saya di Sanggar Sastra Al-Amien (SSA) mesti tak pernah bertemu, antara penulis putra dan putri terpisah maka secara kaderisasi tetaplah senior saya, yang lahir dari rahim Sanggar Sastra Al-Amien.

Yang laki-laki lebih istiqamah mendongeng secara vokal dan visual dan yang perempuan lebih istiqamah di seni menulis, namun yang pasti kerurunannya mewarisi jiwa seni meski keseniannya bisa dikatakan berbeda. Eit ada yang lupa selain mendongeng Ustad Ahmad Sanusi juga piawai menulis Arab dengan bahasa yang lebih familiar Khattat.

Ternyata bukan hanya seorang ulama yang juga mewarisi ilmu, aenimanpun juga bisa menurunkan jiwa seninya pada titisannya atau yang dalam bahasa orang Madura bisa disebut Nak poto julukan buat anak atau keturunan.

Yang pasti keduanya saling melengkapi. Saling menginspirasi namun nyatanya yang dominan menginspirasi adalah Ustad Ahmad Sanusi nyatanya Ustadzah Endang Kartini semakin lengket dan nempel kayak perangko.

Barangkali tulisan ini bisa disebut sebagai kesaksian. Yang jelas keberadaan keduanya membuat saya iri untuk semakin karib dan melengkapi bersama istri. Bisa dibilang iri yang tak kenal kata no way.

Junglorong, 24 Februari 2020