Jejak Langkah

Tampilkan postingan dengan label Masyaikh Al-Amien Prenduan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masyaikh Al-Amien Prenduan. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Maret 2020

Kiai Idris dan Sanad Sujud Syukur



Oleh Moh. Ghufron Cholid

Berungtungnya saya diberi kesempatan menimba ilmu di pesantren Al-Amien Prenduan. Pesantren yang memadukan metode pendidikan salaf dengan kholaf.

Lembaga yang berada di kawasan Prenduan yang masih masuk wilayah Kabupaten Sumenep.

Lembaga pesantren yang menganjurkan membaca qunut bagi yang menjadi imam sedang untuk makmumnya sesuai apa yang diyakini. Berqunut boleh, tidak berqunut juga boleh.

Lembaga pesantren yang ketika berada di jenjang pendidikan Tsanawiyah memperkenalkan dan membiasakan bermadzhab Syafi'i sedang ketika Aliyah dibekali pelajaran perbandingan madzhab agar tidak mudah menyalahkan yang tidak sama pandangannya baik dalam berqunut maupun persoalan lainnya.

Alangkah sangat bahagia diberi kesempatan berkenalan dan menjadi santri Kiai Idris.

Kiai yang alumni Pondok Pesantren modern GONTOR namun tetap menyeimbangkan porsi kemaduraannya.

Kiai yang membiasakan sujud syukur tiap kali mendapat karunia. Menurut Kiai Idris sujud syukur bisa dilakukan kapan sajs dan di mana saja.

Bila mendapat karunia bersegera sujud syukur adalah sanad ilmu yang saya terima dari Kiai Idris, kiai tiga serangkai yang pernah menjabat Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien.

Mengerjakan sujud syukur, seperti halnya duduk ketika duduk iftiros (duduk di antara dua sujud) lalu berniat sujud syukur kemudian membaca sajada wajhiya lilladzi kholaqahu wasaqwo sam'ahu wa bashorahu bihaulika waquwatika fainnahu lahawla walaquwwata illa billahil aliyyul adzim. Lalu mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri.

Sujud syukur merupakan bentuk pengakuan rasa terimakasih seorang hamba kepada Tuhannya. Sebuah kesaksian bahwa segala terjadi atas kuasa Allah.

Bersujud syukur berarti telah membuat suatu jalan untuk tidak ingkar atas segala nikmat yang telah diberikan Ilahi.

Junglorong, 16 Maret 2020

Minggu, 15 Maret 2020

Kiai Idris dan Mushallanya yang Melegenda


Oleh Moh. Ghufron Cholid

Bila anda nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan tentu anda pernah mendengar nama Mushalla Kiai Idris. Sekarangpun anda masih bisa menyaksikan mushalla tersebut tetap tegak berdiri di samping kediamanan.

Jika anda termasuk santri yang nyantri kisaran di bawah tahun 2000 sampai 2011 tentu anda pernah mendengar atau pernah merasakan getaran dahsyat dari kenangan yang dilahirkan mushalla ini.

Di mushalla inilah, tempat para santri yang diburu permasalahan menemukan solusi. Di mushalla ini pula kedekatan seorang santri dengan kiainya begitu terasa.

Di mushalla ini pula, anda bisa lebih tahu sosok Kiai Idris dari jarak terdekat. Andapun semacam menemukan teknik jitu berdekatan dengan kiai. Menyelesaikan persoalan pribadi yang tidak bisa diatasi sendiri.

Kiai Idris tidak hanya sebagai konseptor melainkan seorang aktor. Tidak hanya sekedar pandai beretorika melainkan pandai menerjemah dalam gerakan nyata.

Siapapun anda. Apapun status anda, baik berstatus santri, pengurus ataupun ustad anda dapat berada di mushalla ini, betkonsultasi secara pribadi dengan kiai. Menanyakan segala hal untuk ditemukan jawabannya.

Anda datang dan menunggu kehadiran Kiai Idris di mushalla maka setelah Kiai Idris datang dari masjid, anda bisa curhat layaknya seorang anak curhat kepada ayahnya.

Kiai Idris mungkin sudah wafat. Mushalla Kiai Idris memang tetap tegak berdiri namun Kiai Idris dan mushallanya yang melegenda menjadi satu paket tak terpisahkan bagi siapa saja, yang pernah datang dan berjumpa kiai.

Mushalla Kiai Idris semacam salah satu jalan dari sekian jalan, terapi melenyapkan kegundahan. Ianya akan tetap abadi dalam ingatan yang pernah merasakan berada di mushalla Kiai Idris.

Junglorong, 16 Maret 2020

Kiai Idris dan Teknik Membuka Kancengan


Oleh Moh. Ghufron Cholid

Kiai Idris merupakan Kiai Generasi Ketiga yang pernah menjadi Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Kiai yang juga seorang alumni Gontor sangat dekat dengan para santri dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan para santrinya.

Berikut adalah kisah tentang Kiai Idris dan Teknik Membuka Kancengan.

Kancengan semacam sihir yang digunakan seseorang untuk mengunci orang lain dengan maksud agar orang tersebut selalu berada dalam kesusahan. Bila dijodohkan maka perjodohannya tidak akan berlangsung lama alias firoq. Dalam bahasa Madura dikenal dengan sebutan reng sangkal.

Keresahan semacam ini, saya tanyakan kepada Kiai Idris dengan maksud apabila ada kenalan yang kena kancengan bisa dibuka. Biar orang tersebut tidak lagi bergelar reng sangkal.

Agaknya Kiai Idris memberikan perhatian lebih masalah ini dan Kiai Idris mengeluarkan ijazah, agar dibacakan sholawat fatih sebanyak seribu kali. Namun sebelum itu dianjurkan untuk tawassul kepada Nabi kepada para guru dan kepada orang yang bersangkutan dengan maksud meminta pertolongan Allah agar kancengan tersebut bisa dibuka dan tak lagi melekat dalam tubuh.

Permasalahan kancengan ini, adalah permasalahan yang urgen agar bisa lebih cepat ditangani. Paling tidak yang diajarkan oleh Kiai Idris termasuk teknik membuka kancengan lewat tawassul dan pembacaan seribu sholawat fatih dengan bersila.

Semoga ijazah ini bisa menjadi jalan terbaik agar kenalan atau orang lain terhindar dari kancengan.

Junglorong, 15 Maret 2020

Jumat, 13 Maret 2020

KH. MOH. TIDJANI DJAUHARI, IJAZAH SHOLAWAT FATIH DAN TANDA TANGAN TERAKHIR


Oleh Moh. Ghufron Cholid

Sholawat Fatih adalah sholawat andalan pondok pesantren Al-Amien Prenduan, biasanya di segenap acara bacaan ini akan bergema, mengecup langit keridhaan. Adalah hal yang sangat khas pula jika mendapat ijazah amalan di pondok ini tanpa melalui proses mencatat, melainkan dibimbing melalui ucapan.
KH. Moh. Tidjani Djauhari, MA (Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan yang wafat 2007), merupakan ulama kharismatik yang membubuhkan tanda tangan terakhirnya di ijazah untuk generasi Sunsavista 31 & Sanvalery 17 (Sunser_317). Generasi lulusan tahun 2006 yang berjuluk anak-anak matahari.
Semasa hidup, KH. Moh. Tidjani Djauhari, MA membekali santri-santrinya dengan amalan sholawat fatih sebanyak 11 kali bacaan saat melakukan perjalanan.
Belakangan sanad amalan ini saya dapatkan dari KH. Ahmad Fauzi Tidjani dengan sanad KH. Ahmad Fauzi Tidjani dari KH. Moh. Tidjani Djauhari dari Kiai Jauhari dari Kiai Chotib dari Kiai Jamaluddin Abdussomad dari guru-gurunya sampai bersambung kepada Rasulullah.
Kalau boleh saya ibaratkan keberadaan sholawat fatih bagi pondok pesantren Al-Amien Prenduan selaksa udara bagi nafas kehidupan maka mengamalkan sholawat fatih yang telah diijazahkan kiai adalah kebaikan.
Kendati demikian KH. Moh. Tidjani Djauhari, MA tidak mewajibkan para santrinya untuk mengamalkan sholawat fatih. Sholawat ini boleh diamalkan boleh ditinggalkan, kiranya demikian yang saya pahami. Barangkali karena keluasan dan ketawadluan yang dimiliki beliau sehingga ijazah amalan ini menjadi suatu pilihan tetap dijalani sebagai keistiqomahan baik di pesantren maupun luar pesantren atau hanya sebagai serep (pusaka) yang boleh dikeluarkan kapan saja dibutuhkan.
Ketika ijazah ini diberikan dan khusus dibaca saat perjalanan, saya semacam menangkap isyarat bahwa bacaan ini bisa dijadikan sebagai bekal perjalanan dari seorang guru kepada seorang murid. Paling tidak sebagai wasilah atau tameng untuk terus berada di jalur keselamatan beriring keridhaan Tuhan.
Belakangan saya mendapatkan semacam penegasan dari putra sulungnya bahwa ijazah sholawat fatih ini bisa dibaca saban selesai sholat lima waktu sebanyak 11 kali boleh dibaca duduk, boleh dibaca sambil berjalan atau melakukan pekerjaan.
Belakangan saya memahami bahwa para masyaikh semacam hendak menegaskan bahwa sebuah amalan hendaknya dilakukan dengan riang dan tanpa tekanan, yang terpenting adalah keistiqomahan dalam mengamalkan.
Jika kembali mengingat amalan yang diijazahkan KH. Tidjani Djauhari untuk dibaca saat perjalanan barangkali kiai ingin agar dalam bertamasya atau melakukan perjalanan, hati kita hendaknya tetap terhubung kepada Nabi Muhammad, bukan seberapa banyak bacaan tetapi seberapa istiqamah kita membiasakan diri untuk melakukan dan mengeratkan ikatan bathin antara umat dengan nabinya.

Junglorong, 23 Februari 2020

MAGNET DAWUH KH. MOH IDRIS JAUHARI


Oleh Moh. Ghufron Cholid

"Anak-anakku bawalah buku dan pulpen di manapun kalian berada, jangan jadi 'KECOA'!!! Yaitu kelompok calon orang-orang awam." KH. Moh. Idris Jauhari

Sepintas apa yang didawuhkan Kiai Idris terkesan penuh sindiran. Barangkali mendengarnya bisa seakan tersambar petir. Telinga memerah tak terduga namun ketika kita memelankan langkah, merasakan desir angin sampai kedalaman ruh, terasa ada sisipan isyarat yang begitu dahsyat jika tidak sekedar didengarkan melainkan dikerjakan.

Tentu apa yang disampaikan Kiai Idris tidak berhenti kepada perintah hanya sekedar membawa melainkan juga mempergunakan.

Kiai Idris seakan ingin para santrinya, murid-muridnya baik yang masih berstatus santri aktif maupun alumni memberdayakan buku dan pulpen di manapun berada.

Buku dan pulpen lambang keseimbangan dan merujuk kepada seorang pemikir atau seorang yang diharap bisa mencatat apa saja yang dianggap berharga sehingga bisa menjadi manusia yang lebih bermakna.

Kiai Idris seakan ingin menegaskan bahwa sejatinya kita masih thalabul ilmi. Kita masih membutuhkan buku dan pulpen untuk mencatat ragam pelajaran bermakna. Biar segala pemikiran yang telah ada atau segala kemajuan yang pernah dicapai, bisa dilacak dan dipelajari sehingga dari hari ke hari kita tidak termasuk orang-orang yang disinyalir dalam surat Al-Ars sebagai orang merugi.

Buku adalah media untuk menumpahkan segala inspirasi, ragam impian ataupun aneka keteladanan, yang hanya bisa ditempuh jika seseorang menggerakkan pulpennya ke dalam buku lalu mencatat, sebagai temuan yang kelak bisa mendatangkan kebahagiaan.

Buku dan pulpen adalah perpaduan yang saling melengkapi. Buku dan pulpen adalah indikasi yang menjadi tolak ukur seseorang seorang penulis atau tidak.

Melihat dari cara Kiai Idris mempertegas dawuhnya, kita seakan mafhum bahwa Kiai Idris ingin santri-santrinya menjadi seorang yang suka menulis atau seorang penulis, apapun profesi yang ditekuni karena dengan menuliskan sebuah pemikiran dalam buku menjadi bukti bahwa seseorang pernah hidup dan pernah berbagi pandangan.

Memang tidak secara terang-terangan mengucapkan jadilah kalian seorang penulis, namun dengan melihat indikator atau melihat diksi yang digunakan Kiai Idris dalam berdawuh, agaknya santri yang penuh lebih Kiai Idris sukai. Bukti konkritnya adalah Kiai Idris tak hanya sekedar berucap melainkan melakukan yakni menghadiahi para tamu undangan di pernikahan putra-putri beliau dengan buku yang lantas dalam buku tersebut tersemat Moh. Idris Jauhari, DAA.

Bahkan lebih dari itu Kiai Idris berdawuh saya bermimpi melahirkan 1000 penulis dari pondok ini dan dawuh itupun juga dijalankan para santrinya yang lantas banyak lahir penulis dari pondok pesantren bernama Al-Amien Prenduan

Junglorong, 13 Maret 2020

Kiai Nawawi Noer Hasan Sidogiri dan Kedermawanannya


Oleh Moh. Ghufron Cholid

Tiap kiai selalu memiliki sisi yang menarik untuk dibahas dan diceritakan begitupun dengan sosok ulama bernama Kiai Nawawi Noer Hasan Sidogiri.

Kiai Nawawi memiliki keistiqamahan suka berinfaq. Bahkan jika ada orang membutuhkan uang tanpa ragu akan memberikan pinjaman.

Kisah lain yang lebih menggetarkan hati dari Kiai Nawawi adalah ketika menerim uang 25 rupiah sebanyak tiga kali penerimaan, lalu Kiai Nawawi memiliki tiga tamu maka uang tersebut dibagikan kepada tiga tamunya, masing-masing mendapatkan 25 rupiah.

Kala itu, harga satu sapi setara 5 rupiah. Betapa dunia dalam pandangan seorang Kiai Nawawi adalah sesuatu yang tidak diimpikan kemegahannya. Betapa kedermawan begitu bertahta sehingga gemerlap dunia tak mampu membutakan mata hati Kiai Sidogiri bernama Kiai Nawawi.

Betapa melihat orang tersenyum, terhindar dari kesusahan lebih digemari daripada limpahan harta dunia.

Alangkah sangat bahagia yang sezaman atau orang yang pernah menjadi santri Kiai Nawawi. Betapa nyala hati, telah terpancar di raut wajah kiai khos ini.

Maka wafatnya Kiai Nawawi adalah duka semesta, adalah duka umat Islam.

Jrenguan, 13 Maret 2020

Kiai Idris dan Penghargaan Bagi Dermawan



Oleh Moh. Ghufron Cholid

Bersyukur atau berterimakasih kepada sesama manusia adalah jalan lain bersyukur kepada Allah. Tampaknya itu tidak sekedar sesuatu yang diketahui melainkan dikerjakan oleh Kiai Idris.

Melupakan jasa pribadi dan selalu mengenang jasa orang lain adalah bagian dari hidup yang tak terlupakan.

Kiai Idris benar-benar menjadikan penghargaan yang diberikan kepada dermawan tak hanya diketahui sezamannya melainkan terus menerus diketahui dari generasi ke generasi, hal semacam ini bisa dilacak pada tiap nama asrama yang ada dalam pesantren Al-Amien Prenduan, sebut saja misalnya Aljufri, Amunir dan lain sebagainya. Penamaan tersebut bukan terbentuk dengan sendirinya dan tak memikiki latar belakang, semua dilakukan oleh Kiai Idris untuk terus mengingat jasa para dermawan, yang ikutserta menyumbangkan materi sehingga asrama tersebut jadi dan layak huni.

Saya kira, apa yang dilakukan Kiai Idris merupakan cara untuk tetap menghidupkan kebaikan orang lain, yang pernah diberikan ke pondok.

Tak hanya itu, peran penting orang-orang yang ikutserta membuat Al-Amien Prenduan menjadi besar seperti yang bisa kita saksikan. Nama-nama orang tersebut berada dalam catatan sejarah yang telah diabadikan oleh Kiai Idris yang kemudian nama-nama tersebut ditulis ulang oleh menantunya Kiai Idris yang bernama Kiai Bagus Amirullah, yang kemudian di desain nama-nama tersebut membentuk  wajah Kiai Chotib yang bisa anda temukan di kantor Elphysika. Atau ruangan yang biasa ditempati oleh Kiai Amir.

Jrengoan, 13 Maret 2020

Kamis, 12 Maret 2020

KH. AHMAD FAUZI TIDJANI: KIAI YANG VISIONER DARI AL-AMIEN PRENDUAN



Oleh Moh. Ghufron Cholid

Kiai Ahmad Fauzi, kiai yang alumni Al-Amien dan pada akhirnya pulang dalam peluk Al-Amien. Kiai yang melanjutkan ekstafeta kepemimpinan pesantren meneruskan perjuangan pendahulunya.

Dalam khidmah yang dilakukan, Kiai Ahmad Fauzi memiliki mimpi besar pada santri-santrinya yang pada akhirnya menjadi alumni di lembaga yang dipimpin dan diasuhnya.

Kiai Ahmad Fauzi berdawuh, Dalam menghadapi ujian ini harus belajar dengan sungguh-sungguh apalagi ini ujian tahap akhir, catat dalam hati kalian: Jadilah yang terbaik (mumtaz). Jika yang terbaik itu 50 orang, maka kalian harus jadi diantara yang 50 itu. Jika yang terbaik 30, kalian harus jadi diantara yg 30 itu. Jika yang terbaik 3 orang, kalian harus jadi diantara yang 3 orang tersebut. Pun jika yang terbaik itu hanya 1 maka kamulah 1 orang tersebut."

Sejatinya Kiai Ahmad Fauzi menegaskan, tak ada jalan lain selain maju ke depan menjadi yang terbaik.

Tak peduli sebarapa banyak dan sedikitnya bahkan jika hanya tersisa 1 orang 1 orang di antara muridnya yang harus mumtaz.

Hal ini menandakan bahwa Kiai Ahmad Fauzi Tidjani adalah seorang Pimpinan dan Pengasuh Al-Amien Prenduan yang visioner.

Pimpinan dan Pengasuh yang memperlakukan tiap santri memiliki kesempatan yang sama dalam menjadi yang terbaik. Namun Kiai Ahmad Fauzi sangat menyadari betapa seleksi alam itu sangatlah nyata, sehingga ada penegasan dari dawuh yang disampaikan. Kiai Ahmad Fauzi berdawuh, "Pun jika yang terbaik itu hanya 1 maka kamulah 1 orang tersebut."

Junglorong, 13 Maret 2020