Jejak Langkah

Jumat, 27 Maret 2020

UNDANGAN MENULIS ALUMNI MUNSI 2020

Lesbumi Kedungdung Menulis-Dalam rangka menggairahkan kehidupan sastra, Alumni MUNSI akan menyusun buku antologi (esai sastra, cerpen, dan puisi). Siapa pun boleh ikut, Terbuka untuk umum. Gratis, dan tak berbayar. Tim kurator akan dipilih dari kalangan sastrawan yang kredibel dan terpercaya.

Persyaratan:

1. Antologi ini terbuka bagi warga negara Indonesia, berdomisili di mana saja, siapa saja, segala usia, baik laki-laki maupun perempuan.
2. Tema bebas
3. Setiap peserta hanya boleh memilih mengirim esai sastra atau cerpen atau puisi untuk antologi.
4. Kirim karya terbaik, karya asli, bukan plagiat, atau pun dituliskan oleh orang lain.
Untuk esai sastra: kirim 2 esai maksimal 5 halaman,
Untuk cerpen: kirim 2 cerpen maksimal 7 halaman,
Untuk puisi: kirim 10 puisi, panjang setiap puisi maksimal 40 baris,(Jadi cukup termuat masing-masing puisi satu halaman dalam buku.)
5. Naskah dikirim beserta foto dan biodata terbaru (paling banyak 12 baris/ kalimat), alamat, e-mail, dan nomor telepon. Ditulis dalam satu lembaran/scroll.
6. Pengiriman naskah harus berupa lampiran email, dan bukan di badan email.
7. Silakan kirim karya terbaik Anda, ke email: alumnimunsi2017@gmail.com, dan paling lambat sudah harus diterima pada 30 Maret 2020, pukul 24.OO.
8. Naskah yang masuk akan diseleksi oleh tim kurator/editor yang ditunjuk. Antologi direncanakan terbit dan akan diluncurkan tahun 2020.
9. Tidak ada pungutan uang untuk keikut-sertaan dalam antologi ini, termasuk bagi mereka yang puisinya terpilih.
10. Setiap penulis yang karyanya terpilih dan dimuat akan mendapat 1 (satu) eks. buku sebagai nomor bukti.
11. Tidak diadakan surat-menyurat atau pun kontak lainnya. (R)

Antologi Puisi Melawan Corona



Lesbumi Kedungdung Menulis– Virus Corona atau COVID-19 sudah menjadi wabah dunia. Per tanggal 20 Maret 2020 pukul 17.00, tercatat 244.525 kasus di dunia, 86.032 sembFacebookTwitterWhatsAppLineSMSTelegramGmailEmai yang sama sudah tercatat 369 kasus, 17 sembuh dan 32 meninggal dunia. Berbagai prediksi yang dilakukan oleh beberapa lembaga penelitian mengindikasikan kemungkinan kasus ini akan meningkat di Indonesia sampai beberapa bulan ke depan.

Pemerintah Republik Indonesia juga sudah membentuk Satuan Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Semua potensi bangsa dikerahkan untuk ikut serta menangani wabah ini dengan kemampuan masing-masing.

Bagaimanakah peran penyair? Para penyair tentu tidak akan terlibat langsung dalam penanganan COVID-19 di lapangan. Tetapi para penyair harus mampu menyatukan semua energi positif bangsa dengan cara menggugah kesadaran bahwa ini adalah perang kita bersama.

Untuk itu, Yayasan Dapur Sastra Jakarta ingin menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi dengan tema Puisi Melawan Corona. Melalui buku ini, diharapkan semua energi positif bangsa yang tertuang dalam puisi para penyair akan terkumpul, menggugah kesadaran serta menyemangati kita bersama.

Kirimkan satu puisi Anda tentang Corona atau COVID-19 dari perspektif apa saja ke alamat kreasi.dsj@yandex.com, paling lambat tanggal 31 Maret 2020 pukul 23.55 WIB.

Ketentuannya adalah: terbuka untuk siapapun yang berminat, ditulis dalam Bahasa Indonesia, panjang puisi maksimal 35 baris (termasuk baris spasi), biodata maksimal 50 kata, dikirim dalam bentuk berkas doc melalui mail attachment.

Kurator akan memilih 150 puisi terbaik untuk diterbitkan dalam buku kumpulan pusi Puisi Melawan Corona oleh Yayasan Dapur Sastra Jakarta.

Setiap penyair yang puisinya dimuat pada buku ini nanti tidak diberikan honor dan akan mendapatkan satu buku secara gratis. Jika ingin memiliki lebih dari satu dapat dilakukan dengan mengganti ongkos cetak.

Buku ini tidak akan diperjualbelikan, dan akan dibagikan kepada berbagai perpustakaan dan pihak-pihak yang terkait.

Buku ini diterbitkan oleh Teras Budaya Jakarta untuk Yayasan Dapur Sastra Jakarta. (R)

FESTIVAL SASTRA INTERNASIONAL GUNUNG BINTAN 2020


RIAU (Litera.co.id) – Yayasan Jembia Emas bekerjasama dengan Dewan Kesenian Kepri, Dinas Kebudayaan Kepri, Dinas Budspar Kota Tanjung pinang, Dinas Budspar Bintan , dan Dinas Kebudayaan Lingga, akan menyelenggarakan kembali event Festival Sastera Internasional Gunung Bintan ( FSIGB ) 2020.
Dengan ketentuan sebagai berikut:
1. FSIGB 2020 direncanakan dilaksanakan tanggL 24 sampai 27 September 2020 Di Tanjungpinang, Bintan, Kepri. FSIGB 2020 merupakan kelanjutan FSIGB 2018 dan FSIGB 2019.
2. Tema FSIGB 2020 : Tamaddun Melayu dan tradisi kesusasteraan
3. Kegiatan yang akan dilaksanakan antara lain : Penerbitan antologi puisi bersama “Jazirah Empat“ untuk peserta yang hadir pada FSIGB 2019, dgn tema : kembara padang lamun dan air mata rindu
4. penerbitan antologi bersama, Jazirah Lima untuk peserta 2020 yang lolos kurasi dengan tema:Laut , Angin dan gemuruh rindu. Tiap peserta diwajibkan mengirimkan maksimum 5 bh puisi, foto diri dan biodata singkat kepenyairan. Peserta yg puisinya lolos kurasi akan diundang mengikuti acara tersebut
5. Penerbitan antologi puisi jazirah 6 khusus untuk penyair Kepulauan Riau dengan tema : Kepri jantung tanah melayu
6. Seminar sastera dengan tema: Tamadun Melayu dan tradisi kesusasteraan dengan sejumlah pembicara dari Indonesia dan Negeri serumpun
7. Baca puisi bersama di sejumlah venue yang jadi tempat kegiatan.
8. Ziarah budaya menelusuri jejak sejarah perlawanan Sultan Mahmud I melawan Portugis di Bintan. Kunjungan lapangan dan presentasi pakar sejarah Kepri.
9. Peluncuran bersama 100 buku puisi peserta FSIGB 2020 yang lolos kurasi. Peserta yang lolos kurasi diminta mengirimkan cover buku puisinya yang terakhir dan satu puisi andalannya untuk dikutip cuplikannya.
10. Bazar kuliner khas melayu lingga : Pesta sagu gubal
11. Panitia hanya menanggung akomodasi ( satu kamar Berdua ) , kosumsi selama acara, dan transportasi lokal selama acara. Panitia tidak menanggung biaya Transfortasi Dari tempat peserta ke Tanjungpinang ( Bintan ) dan juga kembali.
12. Batas waktu penerimaan puisi/naskah /makalah : 30 Juni 2020.
13. Semua puisi, makalah dan naskah lainnya, dialamatkan pada email : fhardelia2@gmail.com
14. Hal hal lain yang belum jelas dapat ditanyakan pada : yuanda Isha 082170703568, via wag jazirah sastera atau kepada Rida K Liamsi, wa 08117001943 atau email : rliamsipku@gmail.com. (R)

Senin, 16 Maret 2020

Kiai Idris dan Sanad Sujud Syukur



Oleh Moh. Ghufron Cholid

Berungtungnya saya diberi kesempatan menimba ilmu di pesantren Al-Amien Prenduan. Pesantren yang memadukan metode pendidikan salaf dengan kholaf.

Lembaga yang berada di kawasan Prenduan yang masih masuk wilayah Kabupaten Sumenep.

Lembaga pesantren yang menganjurkan membaca qunut bagi yang menjadi imam sedang untuk makmumnya sesuai apa yang diyakini. Berqunut boleh, tidak berqunut juga boleh.

Lembaga pesantren yang ketika berada di jenjang pendidikan Tsanawiyah memperkenalkan dan membiasakan bermadzhab Syafi'i sedang ketika Aliyah dibekali pelajaran perbandingan madzhab agar tidak mudah menyalahkan yang tidak sama pandangannya baik dalam berqunut maupun persoalan lainnya.

Alangkah sangat bahagia diberi kesempatan berkenalan dan menjadi santri Kiai Idris.

Kiai yang alumni Pondok Pesantren modern GONTOR namun tetap menyeimbangkan porsi kemaduraannya.

Kiai yang membiasakan sujud syukur tiap kali mendapat karunia. Menurut Kiai Idris sujud syukur bisa dilakukan kapan sajs dan di mana saja.

Bila mendapat karunia bersegera sujud syukur adalah sanad ilmu yang saya terima dari Kiai Idris, kiai tiga serangkai yang pernah menjabat Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien.

Mengerjakan sujud syukur, seperti halnya duduk ketika duduk iftiros (duduk di antara dua sujud) lalu berniat sujud syukur kemudian membaca sajada wajhiya lilladzi kholaqahu wasaqwo sam'ahu wa bashorahu bihaulika waquwatika fainnahu lahawla walaquwwata illa billahil aliyyul adzim. Lalu mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri.

Sujud syukur merupakan bentuk pengakuan rasa terimakasih seorang hamba kepada Tuhannya. Sebuah kesaksian bahwa segala terjadi atas kuasa Allah.

Bersujud syukur berarti telah membuat suatu jalan untuk tidak ingkar atas segala nikmat yang telah diberikan Ilahi.

Junglorong, 16 Maret 2020

Minggu, 15 Maret 2020

Kiai Idris dan Mushallanya yang Melegenda


Oleh Moh. Ghufron Cholid

Bila anda nyantri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan tentu anda pernah mendengar nama Mushalla Kiai Idris. Sekarangpun anda masih bisa menyaksikan mushalla tersebut tetap tegak berdiri di samping kediamanan.

Jika anda termasuk santri yang nyantri kisaran di bawah tahun 2000 sampai 2011 tentu anda pernah mendengar atau pernah merasakan getaran dahsyat dari kenangan yang dilahirkan mushalla ini.

Di mushalla inilah, tempat para santri yang diburu permasalahan menemukan solusi. Di mushalla ini pula kedekatan seorang santri dengan kiainya begitu terasa.

Di mushalla ini pula, anda bisa lebih tahu sosok Kiai Idris dari jarak terdekat. Andapun semacam menemukan teknik jitu berdekatan dengan kiai. Menyelesaikan persoalan pribadi yang tidak bisa diatasi sendiri.

Kiai Idris tidak hanya sebagai konseptor melainkan seorang aktor. Tidak hanya sekedar pandai beretorika melainkan pandai menerjemah dalam gerakan nyata.

Siapapun anda. Apapun status anda, baik berstatus santri, pengurus ataupun ustad anda dapat berada di mushalla ini, betkonsultasi secara pribadi dengan kiai. Menanyakan segala hal untuk ditemukan jawabannya.

Anda datang dan menunggu kehadiran Kiai Idris di mushalla maka setelah Kiai Idris datang dari masjid, anda bisa curhat layaknya seorang anak curhat kepada ayahnya.

Kiai Idris mungkin sudah wafat. Mushalla Kiai Idris memang tetap tegak berdiri namun Kiai Idris dan mushallanya yang melegenda menjadi satu paket tak terpisahkan bagi siapa saja, yang pernah datang dan berjumpa kiai.

Mushalla Kiai Idris semacam salah satu jalan dari sekian jalan, terapi melenyapkan kegundahan. Ianya akan tetap abadi dalam ingatan yang pernah merasakan berada di mushalla Kiai Idris.

Junglorong, 16 Maret 2020

Kiai Idris dan Teknik Membuka Kancengan


Oleh Moh. Ghufron Cholid

Kiai Idris merupakan Kiai Generasi Ketiga yang pernah menjadi Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Kiai yang juga seorang alumni Gontor sangat dekat dengan para santri dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan para santrinya.

Berikut adalah kisah tentang Kiai Idris dan Teknik Membuka Kancengan.

Kancengan semacam sihir yang digunakan seseorang untuk mengunci orang lain dengan maksud agar orang tersebut selalu berada dalam kesusahan. Bila dijodohkan maka perjodohannya tidak akan berlangsung lama alias firoq. Dalam bahasa Madura dikenal dengan sebutan reng sangkal.

Keresahan semacam ini, saya tanyakan kepada Kiai Idris dengan maksud apabila ada kenalan yang kena kancengan bisa dibuka. Biar orang tersebut tidak lagi bergelar reng sangkal.

Agaknya Kiai Idris memberikan perhatian lebih masalah ini dan Kiai Idris mengeluarkan ijazah, agar dibacakan sholawat fatih sebanyak seribu kali. Namun sebelum itu dianjurkan untuk tawassul kepada Nabi kepada para guru dan kepada orang yang bersangkutan dengan maksud meminta pertolongan Allah agar kancengan tersebut bisa dibuka dan tak lagi melekat dalam tubuh.

Permasalahan kancengan ini, adalah permasalahan yang urgen agar bisa lebih cepat ditangani. Paling tidak yang diajarkan oleh Kiai Idris termasuk teknik membuka kancengan lewat tawassul dan pembacaan seribu sholawat fatih dengan bersila.

Semoga ijazah ini bisa menjadi jalan terbaik agar kenalan atau orang lain terhindar dari kancengan.

Junglorong, 15 Maret 2020

Jumat, 13 Maret 2020

KH. MOH. TIDJANI DJAUHARI, IJAZAH SHOLAWAT FATIH DAN TANDA TANGAN TERAKHIR


Oleh Moh. Ghufron Cholid

Sholawat Fatih adalah sholawat andalan pondok pesantren Al-Amien Prenduan, biasanya di segenap acara bacaan ini akan bergema, mengecup langit keridhaan. Adalah hal yang sangat khas pula jika mendapat ijazah amalan di pondok ini tanpa melalui proses mencatat, melainkan dibimbing melalui ucapan.
KH. Moh. Tidjani Djauhari, MA (Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan yang wafat 2007), merupakan ulama kharismatik yang membubuhkan tanda tangan terakhirnya di ijazah untuk generasi Sunsavista 31 & Sanvalery 17 (Sunser_317). Generasi lulusan tahun 2006 yang berjuluk anak-anak matahari.
Semasa hidup, KH. Moh. Tidjani Djauhari, MA membekali santri-santrinya dengan amalan sholawat fatih sebanyak 11 kali bacaan saat melakukan perjalanan.
Belakangan sanad amalan ini saya dapatkan dari KH. Ahmad Fauzi Tidjani dengan sanad KH. Ahmad Fauzi Tidjani dari KH. Moh. Tidjani Djauhari dari Kiai Jauhari dari Kiai Chotib dari Kiai Jamaluddin Abdussomad dari guru-gurunya sampai bersambung kepada Rasulullah.
Kalau boleh saya ibaratkan keberadaan sholawat fatih bagi pondok pesantren Al-Amien Prenduan selaksa udara bagi nafas kehidupan maka mengamalkan sholawat fatih yang telah diijazahkan kiai adalah kebaikan.
Kendati demikian KH. Moh. Tidjani Djauhari, MA tidak mewajibkan para santrinya untuk mengamalkan sholawat fatih. Sholawat ini boleh diamalkan boleh ditinggalkan, kiranya demikian yang saya pahami. Barangkali karena keluasan dan ketawadluan yang dimiliki beliau sehingga ijazah amalan ini menjadi suatu pilihan tetap dijalani sebagai keistiqomahan baik di pesantren maupun luar pesantren atau hanya sebagai serep (pusaka) yang boleh dikeluarkan kapan saja dibutuhkan.
Ketika ijazah ini diberikan dan khusus dibaca saat perjalanan, saya semacam menangkap isyarat bahwa bacaan ini bisa dijadikan sebagai bekal perjalanan dari seorang guru kepada seorang murid. Paling tidak sebagai wasilah atau tameng untuk terus berada di jalur keselamatan beriring keridhaan Tuhan.
Belakangan saya mendapatkan semacam penegasan dari putra sulungnya bahwa ijazah sholawat fatih ini bisa dibaca saban selesai sholat lima waktu sebanyak 11 kali boleh dibaca duduk, boleh dibaca sambil berjalan atau melakukan pekerjaan.
Belakangan saya memahami bahwa para masyaikh semacam hendak menegaskan bahwa sebuah amalan hendaknya dilakukan dengan riang dan tanpa tekanan, yang terpenting adalah keistiqomahan dalam mengamalkan.
Jika kembali mengingat amalan yang diijazahkan KH. Tidjani Djauhari untuk dibaca saat perjalanan barangkali kiai ingin agar dalam bertamasya atau melakukan perjalanan, hati kita hendaknya tetap terhubung kepada Nabi Muhammad, bukan seberapa banyak bacaan tetapi seberapa istiqamah kita membiasakan diri untuk melakukan dan mengeratkan ikatan bathin antara umat dengan nabinya.

Junglorong, 23 Februari 2020